Save The Children dan Dinkes Sumba Barat Sosialisasi Pneumonia Bagi Tokoh Agama

WAIKABUBAK-dpmdsb. Tim Gates Project dari Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) mitra Save The Children International bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat melakukan sosialisasi bahaya dan penanggulangan Penyakit Pneumonia dan Diare kepada para tokoh agama tingkat Kabupaten Sumba Barat. Sosialisasi Pneumonia dan Diare ini dilakukan pada Selasa, (19/3/ 2019) bertempat di aula GKS Waikabubak.

Kegiatan ini dibuka oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat, Marthen K. Naha yang mewakili Kepala Dinas Kesehatan, Drg. Bonar B. Sinaga, M.Kes, yang sedang menjalankan tugas lainnya.

Hadir dalam kegiatan sosialisasi ini Gates Project Manager, Retno Wardhani, Advocacy Advisor Dr. Evie Douren, Kepala Seksi Survailans, Imunisasi, Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan, Endang Titik Megawati, S.KM serta sejumlah tokoh agama. Para tokoh agama yang hadir berasal dari Islam, denominasi Kristen, Katolik dan dari Komunitas Marapu.

Dalam kegiatan yang difasilitasi oleh Haryati Podu Lobu Advocacy Officer YSTC tersebut diisi dengan pemaparan tentang bahaya Penyakit Pneuminia serta upaya pencegahan dan penanggulangan balita sakit. Selain itu, di sesi diskusi, para peserta saling bertukar pikiran terkait strategi yang efektif untuk menyampaikan informasi Pneumonia kepada komunitas masing-masing.

Di hadapan para tokoh agama, sejumlah narasumber baik dari YSTC maupun Dinas Kesehatan mengajak para tokoh agama agar bisa membantu untuk meneruskan informasi kepada masyarakat terkait pencegahan dan penanggulangan pneumonia dan diare. Sekretaris Dinas Kesehatan, Marthen K.Naha, ketika membuka kegiatan tersebut, menjelaskan, semua pihak termasuk tokoh agama harus mengetahui tanda-tanda dari setiap penyakit termasuk pneumonia.

Jika sudah mengetahui selanjutnya harus mengetahui cara menanganinya. Melalui sosialisasi ini, Sekretaris Dinas Kesehatan berharap masyarakat menyadari dan memahami tanda-tanda dari bahaya Penyakit Pneumonia, masyarakat memiliki ketrampilan untuk melakukan upaya bila mengetahui adanya tanda-tanda dari bahaya Penyakit Pneumonia pada bayi dan anak. Pemerintah Desa, Kader, Pengurus Kelompok Peduli nak atau KPA, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat turut serta dalam mendukung setiap upaya pengendalian dan pencegahan Penyakit Pneumonia dan kesehatan anak di desa serta menyediakan bahan, alat dan anggaran untuk penanggulangan Penyakit Pneumonia di desa masing-masing.

Hal ini kemudian dipertegas oleh narasumber dari Dinas Kesehatan. Endang Titik Megawati,SKM, dari Dinas Kesehatan, menjelaskan bahwa permasalahan penyakit pneumonia saat ini sudah ada di masyarakat. Hal ini bisa terlihat dari prosentase penemuan penderita Pneumonia dan Pneumonia Berat pada Balita usia 1 – < 5 tahun tahun 2018 seperti di Puskesmas Padediwatu sebesar 36,06 %, Puskesmas Puuweri 30,88 %, Puskesmas Lahirhuruk 20,96 %, Puskesmas Kabukarudi 10,6 %, Puskesmas Tanarara 12,56 %, Puskesmas Kareka Nduku 10,6 % dan sejumlah puskesmas lainnya juga teridentifikasi ditemukannya penyakit pneumonia. Total keseluruhan untuk penemuan penderita Pneumonia pada balita tingkat Kabupaten Sumba Barat untuk usia di bawah 1 tahun sebanyak 91 kasus dan untuk usia 1 sampai di bawah 5 tahun sebanyak 107 kasus. Sementara itu, untuk penderita batuk bukan pneumonia sebanyak 3.532 kasus untuk usia di bawah 1 tahun, dan ada 7.003 kasus untuk usia 1 sampai di bawah 5 tahun.

Endang Titik Megawati, menjelaskan, seorang balita yang mengidap pneumonia akan terganggu masa tumbuh kembangnya. Karena itu, ia berharap agar para tokoh agama dengan cara masing-masing agar setiap keluarga atau orangtua memberikan perhatian yang serius dalam penanganan pneumonia.

“Kalau ada tanda-tanda segera bawa ke puskesmas atau rumah sakit. Jangan biarkan berhari-hari rawat di rumah. Semakin cepat diantar ke rumah sakit akan semakin cepat penanganannya, “ujar Endang.

Kepala Seksi Survailans, Imunisasi, Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan ini, menambahkan, dengan memberikan perhatian yang serius pada kesehatan balita maka balita akan bertumbuh dan berkembang secara baik sesuai usianya baik aspek psikomotor, kognitif, Bahasa dan lainnya. Ditambahkannya pula persoalan pneumonia merupakan persoalan gangguan infeksi saluran pernafasan bawah yang juga ada kemiripan dengan gangguan pernafasan atas.

Pada infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah selalu berhubungan dengan paru-paru. Seorang balita yang terkena pneumonia pasti riwayatnya selalu dipengaruhi oleh kebiasaan hidup sehari-hari. Pneumonia sendiri dalam kehidupan sehari-hari biasanya dikenal dengan istilah paru-paru basah. Pneumonia adalah infeksi yang memicu inflamasi pada kantong-kantong udara di salah satu atau kedua paru-paru (alveoli). Akibatnya adalah terjadinya peradangan pada paru yang mengakibatkan tertimbunnya eksudat di paru-paru sehingga terjadilah gangguan pertukaran gas. Pada pengidap pneumonia, sekumpulan kantong-kantong udara kecil di ujung saluran pernapasan dalam paru-paru akan membengkak dan dipenuhi cairan.

“Sebanyak 70 % kematian balita akibat pneumonia itu disebabkan oleh bakteri. Seorang yang terkena pneumonia harus diberikan antibiotic yang tepat. Tanda-tanda seorang anak terkena pneumonia itu bisa diihat dari nafas cepat lebih dari 60 kali per menit, nafas lambat 30 kali per menit, tarikan nafas dalam dada bagian bawah ke dalam, kurang bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, wheezing, tangan kaki teraba dingin dan demam, “jelasnya.

Sementara itu, Advocacy Advisor Gates YSTC, Dr. Evie Douren, mengatatakan, Pneumonia merupakan salah satu penyebab kematian anak-anak tertinggi di dunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa penyakit ini memicu 15% dari seluruh kematian anak-anak di bawah usia 5 tahun. Pneumonia sampai saat ini masih merupakan penyebab terbesar kematian balita secara global, setiap 30 detik, seorang anak usia < 5 tahun meninggal karena pneumonia.

Pada tahun 2015, 5,9 juta balita meninggal dan 15 % (935.000) diantaranya karena pneumonia. Pneumonia menyerang anak dan keluarga dimana pun berada, namun tertinggi terjadi di Asia Selatan dan sub-Sahara Afrika. Namun, Anak sesungguhnya dapat dilindungi dari pneumonia, pencegahan cukup dengan intervensi dan biaya pengobatan rendah, dengan teknologi kedokteran dan pelayanan kesehatan sederhana. Penyakit ini juga kata Dokter Evie, sering disebut bronkopneumonia, pneumonia lobular, dan pneumonia bilateral. Secara umum, pneumonia dapat ditandai dengan gejala-gejala yang meliputi batuk, demam, dan kesulitan bernapas.

Semua orang, jelas Dokter Evie, bisa terserang penyakit ini, tetapi pneumonia umumnya ditemukan dan berpotensi untuk bertambah parah pada; bayi serta anak-anak di bawah usia 2 tahun, lansia di atas 65 tahun, perokok yang sering merokok sehingga meningkatkan risiko pneumonia, tapi juga beragam penyakit lain. Selain itu, setiap orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah, misalnya pengidap HIV atau orang yang sedang menjalani kemoterapi juga bisa beresiko terkena pneumonia. Di samping itu, pengidap penyakit kronis, seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan pasien di rumah sakit, terutama yang menggunakan ventilator juga bisa beresiko pneumonia.

Dalam kegiatan sosialisasi pneumonia ini, juga disampaikan tentang pentingnya menjaga kesehata ibu, kesehatan bayi baru lahir dan anak. Koordinator Porgram MNCHN (Maternal New Born and Child Health) dari YSTC, Selwin Apry Leokuna, menjelaskan, untuk mendukung balita sehat maka setiap orangtua harus memeriksakan kehamilan dan melakukan persalinan di fasilitas kesehatan yang memadai, mengikuti kelas ibu hamil, kelas BKB HI (Bina Keluarga Balita Holistik Integratif) untuk mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan menjadi orangtua hebat dalam pengasuhan anak.

Tokoh Agama Siap Sosialisasi Pneumonia

Para tokoh agama yang hadir dalam sosialisasi pneumonia menyatakan kesediaan dan kesiapannya untuk melakukan sosialisasi bahaya, pencegahan serta penanggulangannya. Pemuka Agama Katolik, Leba Marawali, mengatakan, pengetahuan tentang kesehatan perlu disampaikan ke setiap keluarga. di Paroki Waikabubak dan Gereja Katolik pada umumnya selalu ada masa 3 bulan untuk melakukan pembinaan atau kursus perkawinan. Pada saat kursus ini biasanya ada banyak materi yang disampaikan.

“Materi Pneumonia bisa dijadikan salah satu materi dalam kursur perkawinan, “sarannya.

Sekretaris Paroki Waikabubak ini, menambahkan, di parokinya setiap minggu ada 2 kali pelatihan bagi anak temu minggu dan anak-anak Sekami. Dalam pelatihan ini, bisa juga disampaikan materi pneumonia dan kesehatan anak. Selain itu, di bulan Mei dan Oktober adalah bulan Doa Rosario dan hari pangan sehingga bisa digunakan untuk penyampaian informasi tentang kesehatan.

Hal sama juga dikemukakan tokoh agama dari Gereja Protestan, Pdt. Herman Dahawali, S.Th. Dikatakannya ada banyak event yang bisa digunakan untuk sosilisasi pneumonia. Sementara itu, di Islam juga ada kegiatan pengajian, arisan, dan kegiatan di sekolah yang cukup efektif menyampaikan pneumonia. Para tokoh agama menyarankan agar Dinkes dan YSTC bisa memperbanyak media komunikasi seperti dalam bentuk poster atau leaflet untuk di tempel di tempat strategis agar bisa dibaca oleh semua orang.

Hal sama juga disampaikan oleh perwakilan Komunitas Marapu yang menyatakan akan melakukan sosialisasi bahaya merokok bagi kesehatan, mendorong orangtua membawa anak ke posyandu dan mendapatkan imunisasi lengkap serta memanfaatkan ritual adat seperti Podhu untuk menyampaikan pesan pneumonia kepada masyarakat. (*) Kontributor : Silvester Nusa

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.