Desa Hupu Mada Alokasikan Dana Desa 2019 Untuk Pencegahan Pneumonia

HUPU MADA, WANUKAKA- dpmdsb.Pemerintah Desa Hupu Mada, Kecamatan Wanukaka, Kabupaten Sumba Barat pada tahun anggaran 2019, mengalokasikan anggaran sebesar Rp 6 juta untuk sosialisasi pencegahan Penyakit Pneumonia. Sosialisasi pencegahan Pneumonia akan dilakukan di semua dusun di wilayah Desa Hupu Mada.

Hal itu dikatakan Kepala Desa Hupu Mada, Anderias Runga Wadda, saat membuka kegiatan Sosialisasi Bahaya Penyakit Pneumonia, Pencegahan dan Penanganan Balita Sakit pada Jumat (22/3/2018) di Kantor Desa Hupu Mada. Untuk mencegah tidak terjadinya korban pneumonia lagi sekaligus meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pneumonia maka pada tahun anggaran 2019 pihaknya telah mengaloksikan anggaran untuk sosialisasi pneumonia di semua dusun sebesar Rp 6 juta.

Selain itu, ada juga anggaran untuk transport kader posyandu, kader bina keluarga balita (BKB), pengasuh PAUD serta Kader MTBSM (Manajemen Terpadu Balita Sakit Berbasis Masyarakat). Melalui anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) juga telah dianggarkan bagi biaya penanganan balita kurang gizi, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan anak PAUD serta anggaran untuk administrasi PAUD dan posyandu.

Pada kegiatan sosialisasi ini juga terlihat warga Desa Hupu Mada sangat antusias ingin mengetahui seperti apa bahaya dari penyakit ini. Sosialisasi yang dilakukan pihak Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat dan Perkumpulan Stimulan berlangsung di aula Kantor Desa Hupu Mada.

Di hadapan masyarakatnya, Kepala Desa Hupu Mada, menyampaikan terima kasih kepada YSTC dan Dinas Kesehatan yang telah meluangkan waktunya untuk sosialisasi pneumonia. Menurut Kepala Desa Hupu Mada, hingga saat ini sebenarnya sudah ada korban Pneumonia di desanya. Ada seorang anak di Dusun 04 Praigaga yang meninggal dunia akibat Pneumonia. Agar tidak ada korban lagi maka setiap orangtua atau keluarga harus memberikan perhatian terhadap pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat serta mengetahui tanda-tanda bila anak terkena Pneumonia dan harus tahu cara menangani ketika anak bila sakit.

Sosialisasi yang berlangsung selama sehari ini menghadirkan narasumber yang juga Kepala Seksi Survailans, Imunisasi, Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat, Endang Titik Megawati, S.KM. Di hadapan masyarakat Desa Hupu Mada, Endang menjelaskan secara mendetail tentang bahaya dari Penyakit Pneumonia dan dampaknya terhadap kesehatan anak.

Selain itu, Endang juga mengajak masyarakat untuk melakukan berbagai upaya pencegahan agar setiap balita tidak terkena penyakit yang berbahaya tersebut. Para orangtua juga diajaknya untuk mengetahui tanda-tanda bila seorang anak mengalami pneumonia.

Pneumonia dalam kehidupan sehari-hari biasa dikenal juga dengan istilah paru-paru basah. Ini adalah infeksi yang memicu inflamasi pada kantong-kantong udara di salah satu atau kedua paru-paru (alveoli). Adanya peradangan pada paru mengakibatkan tertimbunnya eksudat di paru paru yang mengakibatkan gangguan pertukaran gas. Pada pengidap pneumonia, sekumpulan kantong-kantong udara kecil di ujung saluran pernapasan dalam paru-paru akan membengkak dan dipenuhi cairan. Penyakit ini juga sering disebut bronkopneumonia, pneumonia lobular, dan pneumonia bilateral.
Secara umum, pneumonia dapat ditandai dengan gejala-gejala yang meliputi demam, batuk yang mungkin kering dan mungkin juga berdahak diikuti dengan lendir atau mukus berwarna hijau atau kuning. Hidung tersumbat dan bernapas dengan nada yang tinggi, Mengi atau napas berbunyi dan kesulitan bernapas. Umumnya anak kita tetap akan merasakan kesulitan bernapas bahkan saat ia tengah beristirahat. Dada dan perut mengembung. Muntah-muntah, Rasa nyeri pada bagian dada. Nyeri pada perut yang bisa terjadi karena usaha anak kita yang terlalu keras untuk bernapas dengan normal. Selain itu akan ditandai dengan penurunan aktivitas. Kehilangan nafsu makan atau tidak ada nafsu makan. Pada kondisi yang lebih parah warna bibir dan kuku anak kita akan membiru atau abu-abu. Berkeringat, menggigil, kejang, menangis lebih sering dari biasanya, sulit beristirahat, kesadaran menurun, kurang bisa minum, pucat dan lesu. Penyakit pneumonia, kata Endang, merupakan salah satu penyebab kematian balita tertinggi di dunia.

Lebih lanjut dijelaskan Endang, semua orang bisa terserang penyakit ini, tetapi pneumonia umumnya ditemukan dan berpotensi untuk bertambah parah pada bayi serta anak-anak di bawah usia 2 tahun serta lansia di atas 65 tahun. Selain itu, pneumonia bisa disebabkan oleh asap rokok dan asap tungku api. Bagi yang perokok, harap Endang, agar tidak merokok dekat bayi dan balita atau anak serta ibu hamil karena asap rokok dapat menyebabkan pneumonia. Ia berharap kepada para perokok agar menjauh dari anak dan tidak boleh merokok di dalam rumah. Setelah merokok pun diharapkan tidak langsung menggendong anak karena anak bisa menghirup asap rokok yang menempel di pakaian orang tua. Rokok, kata Endang, tak hanya meningkatkan risiko pneumonia, tapi juga beragam penyakit lain.

Ditambahkannya pula, pneumonia juga bisa menyerang setiap orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah, misalnya pengidap HIV atau orang yang sedang menjalani kemoterapi, pengidap penyakit kronis, seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), pasien di rumah sakit, terutama yang menggunakan ventilator. Pneumonia juga bisa menyerang anak sejak dalam kandunngan selama ibu hamil yang tidak mendapatkan vaksin, tidak mendapatkan imunisasi lengkap, tidak mendapatkan IMD (Inisiasi Menyusu Dini), tidak mendapatkan ASI Eksklusif, tidak mendapatkan ASI yang tuntas yakni ASI sampai 2 tahun, cara pemberian MP-ASI yang kurang tepat. Pola Hidup bersih dan sehat yang tidak dibiasakan serta sejumlah factor penyebab lainnya. Pada kesempatan tersebut, Endang juga berdialog dengan peserta serta mendengarkan berbagai keluhan masyarakat terkait kesehatan. Ia juga menyarankan kepada masyarakat untuk juga minum obat filariasis dan malaria.

“Kalau anak sakit jangan diobati sendiri apalagi kalau diare itu lebih dari 3 kali, harus segera membawa anak ke puskesmas. Orang tua juga harus mengenali tanda anak sakit dan tahu obat apa yang tepat untuknya, “ujar kepala desa.

Salah seorang peserta sosialisasi, Anderias kepada narasumber juga memberikan apresiasi atas kegiatan sosialisasi pneumonia. Ia juga bertanya tentang stunting. Menurutnya, ada anak di Desa Hupu Mada saat lahir berat badannya 3,4 kg tetapi setelah dua bulan kemudian mengalami penurunan. Setelah dicek di rumah sakit ternyata menurut dokter mengatakan itu karena salah potong tali pusar. Dokter lalu memberikan saran untuk beli obat di apotik dan pemberian makanan bergizi. Ia sangat menyayangkan atas kelalaian bidan yang menangani persalinan tersebut.

“Saya bertanya begitu karena anak saya yang mengalaminya. Selain anak, ada bapak-bapak yang sering bakar kotoran di bawah rumah, apakah ini berdampak pada pneumonia? Kami juga minta Dinas Kesehatan atau Puskesmas melakukan lagi penyemprotan obat nyamuk di rumah penduduk, “ujarnya.

Terkait keluhan dan pertanyaan tersebut, Endang Titik Megawati, menjelaskan, untuk menghindari pneumonia maka harus membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat dengan cara membersihkan lingkungan sekitar dan rumah secara teratur. Sementara terkait masalah stunting hal itu merupakan suatu kondisi di mana anak yang tinggi badannya tidak sesuai usianya dan ini bisa dicegah dengan asupan gizi yang cukup sejak dalam kandungan hingga usia tiga tahun pertama kehidupan.

Di tempat yang sama, seorang tokoh masyarakat bernama H.H. Gaungu juga menanyakan perihal pneumonia. Menurutnya, pneumonia bisa menjadi penyakit turunan karena cucu tinggal dengan neneknya yang terkena pneumonia. Akibat interaksi yang terus menerus maka seorang anak bisa terkena pneumonia.

Sosialisasi pneumonia juga disambut baik oleh tokoh agama setempat. Pdt. Hermanus Ndaha Wali, S.Th, dari GKS Hupu Mada. Tokoh agama ini menyampaikan terima kasih atas dukungan YSTC dan Dinas Kesehatan yang melakukan sosialisasi sehingga masyarakat bisa mengetahuinya. Dijelaskan Pendeta Hermanus, untuk membangun dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia atau SDM maka sangat dipengaruhi oleh kualitas kesehatan dari manusianya.

“Bagaimana mempersiapkan anak-anak saat ini. Untuk anak-anak kita harus dukung melalui katakisasi karena lewat katakisasi ini akan disampaikan juga tentang pneumonia. Kami sudah sepakat dengan pemerintah dan YSTC agar memanfaatkan media-media pertemuan di desa dan gereja untuk menyampaikan bahaya penyakit pneumonia, “ujarnya.

Pendeta Hermanus, menambahkan, penyakit pneumonia ini menyerang ke anggota tubuh atau tempat yang hanya bisa dilihat dengan alat seperti jantung dan paru. Tanda yang menonjol adalah pernafasan cepat. Kalau ada tanda ini maka harus segera dibawa ke rumah sakit.

“Dari Desa Hupu Mada ini mari kita persiapkan generasi ini secara baik. Ini kesempatan yang baik pula bagi yang belum menikah maupun kita sebagai orangtua. Karena dengan mengetahui lebih awal maka kita bisa menjaga kesehatan anak-anak dan keluarga kita, “ujarnya.

Pendeta Hermanus mengingatkan, salah satu kendala terbesar yang dihadapi masyarakat adalah bagaimana caranya berhenti merokok. Terkadang kita sulit berhenti merokok.

“Kalau merokok jangan dekat anak dan jangan di dalam rumah. Upayakan di luar rumah atau jauh dari anak. Karena mereka adalah generasi masa depan. Setelah merokok sebaiknya jangan gendong anak karena anak bisa menghirup asap rokok yang melengket di baju kita, “ujarnya.

Pendeta Hermanus juga mengusulkan agar kalau bisa setiap tahun ada baksos dari Dinas Kesehatan melakukan pemeriksaan kesehatan secara masal agar bisa mengetahui kondisi kesehatan masyarakat.

Sementara itu, peserta A.U. Bolu, mengatakan, setiap rumah sebaiknya menyediakan Kotak P3K dan dalam kota itu harus tersedia obat-obatan untuk pertolongan pertama pada anak bila sakit. Senada dengan itu, Koordinator Taman Pawoda Desa Hupu Mada, Habel, mengatakan, perlu ad acara alternative seperti pengobatan herbal guna mengatasi permasalahan pneumonia. Hal itu dikatakannya mengingat jika kita mengkonsumsi terus menerus obat antibiotic akan berdampak pada system kekebalan tubuh dimana ketika minum obat lagi sudah tidak berpengaruh pada penyembuhan tubuh yang sakit.

Sosialisasi yang dihadiri oleh segenap elemen masyarakat ini juga diaptesiaso oleh tokoh perempuan desa, Naomi R. Dengu. Dikatakannya, sosialisasi tentang kesehatan sudah dilakukan oleh Project Start sebelumnya. Masyarakat harus mengikuti dan menerapkannnya dalam pola hidup setiap hari.

“Kami ucapkan terima kasih karena hari ini ada sosialisasi. Kami juga bersyukur karena pemerintah desa alokasikan anggaran untuk sosialisasi pneumonia di tingkat dusun, “ujarnya.
Dikatakan Naomi, terkadang masyarakat menganggap pneumonia itu biasa saja. Ia mencontohkan, kalau ada anak yang tidak makan maka orang tua membiarkan. Apalagi kalau anak terkadang panas atau demam dan terkadang dingin dan hal itu itu masing dianggap suatu hal yang biasa saja.

“Kami juga bersyukur ada kerjasama dengan pihak gereja untuk sosialisasi pneumonia. Ini hal yang sangat penting. Mari kita berubah dengan menerapkan pola hidup yang sehat seperti tidak merokok dan lainnya, “ajak Naomi. (***)

Kontributor : Silvester Nusa

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.